Info Kuala Kapuas – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kapuas menegaskan komitmennya dalam memperkuat program ketahanan pangan yang terintegrasi dengan upaya penurunan stunting. Hal ini dipandang penting mengingat masalah gizi buruk dan keterbatasan akses pangan sehat masih menjadi tantangan serius di sejumlah wilayah.
Ketahanan Pangan Jadi Fondasi
Bupati Kapuas menuturkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan bahan makanan, tetapi juga akses masyarakat terhadap pangan bergizi yang aman dan terjangkau. Menurutnya, keberhasilan program penurunan stunting sangat bergantung pada bagaimana pemerintah menjamin distribusi pangan bergizi hingga ke tingkat rumah tangga.
“Kalau pangan cukup tapi tidak bergizi, stunting tetap akan terjadi. Jadi, kita harus memastikan pangan lokal sehat, bergizi, dan bisa dikonsumsi oleh keluarga setiap hari,” ujar Bupati Kapuas.
Integrasi Program Lintas Sektor
Pemkab Kapuas tengah mendorong kolaborasi lintas sektor, mulai dari Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, hingga perangkat desa. Melalui integrasi program ini, intervensi yang dilakukan tidak hanya sebatas penyuluhan gizi, tetapi juga penguatan produksi pangan lokal, pengolahan hasil pertanian, hingga pemberdayaan masyarakat.
Salah satu program yang kini tengah digencarkan adalah pemanfaatan lahan pekarangan rumah tangga untuk ditanami sayuran dan buah-buahan. Selain itu, pengembangan kawasan pangan lestari juga menjadi prioritas agar masyarakat memiliki akses berkelanjutan terhadap bahan makanan sehat.

Baca juga: 14 Kabupaten/Kota di Kalimantan Teken Komitmen ASN Corpu
Peran PKK dan Kader Posyandu
Dalam penurunan angka stunting, Pemkab Kapuas juga menggandeng peran PKK dan kader posyandu sebagai garda terdepan. Mereka diberikan pelatihan khusus terkait pola pemberian makan bayi dan anak (PMBA), pemantauan tumbuh kembang balita, serta penyuluhan konsumsi pangan bergizi seimbang.
“PKK dan posyandu sangat strategis karena mereka bersentuhan langsung dengan keluarga. Dari sinilah edukasi bisa berjalan efektif,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kapuas.
Tantangan di Lapangan
Meski berbagai upaya sudah dijalankan, Pemkab Kapuas mengakui masih ada sejumlah tantangan, seperti rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilih makanan sehat, terbatasnya infrastruktur distribusi pangan di daerah terpencil, hingga masalah kemiskinan yang membuat sebagian keluarga sulit membeli makanan bergizi.
Untuk itu, Pemkab terus mendorong program bantuan sosial yang terintegrasi dengan intervensi gizi, misalnya melalui bantuan pangan bergizi bagi keluarga berisiko stunting.
Harapan Penurunan Stunting Nasional
Langkah Pemkab Kapuas ini sejalan dengan target pemerintah pusat yang menargetkan penurunan angka stunting menjadi 14 persen pada tahun 2024. Dengan pendekatan integratif antara ketahanan pangan dan intervensi gizi, diharapkan angka stunting di Kapuas dapat ditekan secara signifikan.
“Kita ingin anak-anak Kapuas tumbuh sehat, cerdas, dan menjadi generasi emas. Itu hanya bisa terwujud jika kita serius mengelola pangan dan gizi masyarakat,” tegas Bupati.















