Gue freelancer udah hampir empat tahun. Selama itu juga, kebiasaan gue baca berita berubah-ubah tanpa pola yang jelas. Kadang pagi sambil ngopi, kadang malem sebelum tidur, kadang cuma scroll sekilas di sela-sela nunggu revisian klien. Bulan lalu gue iseng bikin eksperimen kecil: sebulan baca berita cuma pagi, sebulan lagi cuma sore. Bukan riset ilmiah, sih. Cuma penasaran, mana yang bikin kepala gue lebih waras dan kerjaan lebih lancar.
Hasilnya lumayan bikin gue kaget. Ternyata jam baca berita itu ngaruh banget ke mood, fokus, bahkan cara gue negosiasi harga sama klien. Ini cerita lengkapnya.
Baca juga: Pawai Ogoh-Ogoh Kapuas jadi panggung harmoni lintas agama
Pagi Hari: Semangat atau Langsung Kebanjiran Drama?
Bulan pertama gue coba disiplin baca berita jam 7 pagi, habis mandi, sebelum buka laptop. Awalnya kerasa produktif banget. Gue kayak orang yang "update", tahu isu terkini, siap ngobrol sama klien. Tapi masuk minggu kedua, ada yang aneh.
Gue mulai sadar kalau pagi-pagi baca berita itu kayak minum kopi campur gula darah rendah. Otak gue belum siap, tapi udah disuguhi berita bencana, konflik politik, harga naik, dan drama artis. Dalam 20 menit, kepala gue udah penuh. Padahal kerjaan belum mulai satu huruf pun.
Ada satu kejadian yang bikin gue ngerasa bodoh sendiri. Pagi itu gue baca berita soal PHK massal di salah satu startup. Padahal gue nggak ada kaitan apa-apa sama perusahaan itu. Tapi sepanjang hari gue jadi parno, mikirin "gimana kalau klien gue ikut ngurangin budget". Padahal klien gue cuma UMKM yang jualan kue kering. Nggak nyambung sama sekali, kan?
Baca berita pagi itu kayak buka pintu rumah terus langsung disemprot angin kencang. Segar, tapi bisa bikin jatuh.
Yang menarik, semangat pagi gue justru lebih tinggi di hari-hari gue nggak baca berita. Gue jadi sadar, "update" itu nggak harus berarti "konsumsi semua yang lagi rame".
Sore Hari: Ritual Penutup yang Lebih Adem
Bulan kedua gue ganti. Pagi gue biarin kosong dari berita. Gue langsung kerja, bikin draft, balas email, telepon klien. Baru jam 4 atau 5 sore, setelah kerjaan utama kelar, gue duduk baca berita sambil ngemil.
Bedanya kerasa banget. Sore hari, otak gue udah "selesai" sama tugas berat. Jadi baca berita nggak lagi jadi beban tambahan, tapi semacam hiburan. Kalau ada berita bikin kesel, gue bisa langsung tutup laptop dan lanjut hidup. Nggak ada kerjaan yang harus gue paksain dengan kepala penuh drama.
Ada sisi minusnya juga, sih. Beberapa kali gue ketinggalan info penting yang muncul pagi. Misalnya ada pengumuman perubahan kebijakan pajak buat freelancer yang ramai dibahas jam 9 pagi, dan gue baru tahu sore. Untungnya nggak fatal, cuma bikin gue telat sehari nyiapin dokumen.
Tapi secara keseluruhan, bulan kedua ini kerasa lebih tenang. Gue nggak lagi bangun tidur dengan rasa was-was yang nggak jelas asalnya. Fokus kerja juga lebih panjang. Dulu gue sering buka tab berita di sela-sela kerja, sekarang tab itu baru kebuka setelah semua deadline hari itu beres.
Satu Hal yang Nggak Gue Duga
Yang paling ngejutin: kualitas tulisan gue ikut berubah. Waktu baca berita pagi, gue sering kebawa nada panik. Tulisan gue jadi lebih buru-buru, banyak kalimat pendek yang tegang. Waktu baca berita sore, gue nulis dengan lebih santai, lebih banyak ide liar yang justru disukai klien. Mungkin karena otak gue nggak lagi dalam mode "siaga bencana" sepanjang hari.
Gue juga jadi lebih selektif. Karena waktu baca berita jadi terbatas di sore hari, gue nggak lagi asal klik semua judul. Gue pilih dua atau tiga sumber yang gue percaya, baca sampai selesai, terus tutup. Nggak ada lagi scroll tanpa ujung yang bikin gue ngerasa "update" padahal cuma tahu judul.
Jadi, Mana yang Gue Pilih?
Kalau disuruh milih permanen, gue condong ke pola sore. Tapi bukan berarti pagi itu buruk total. Buat freelancer yang kerjanya butuh info real-time, misalnya yang main di pasar saham atau crypto, baca berita pagi mungkin justru wajib. Mereka butuh tahu kondisi sebelum pasar buka.
Buat gue yang kerjaannya nulis dan desain buat UMKM, berita pagi itu nggak sebanding sama kerugian mood-nya. Gue butuh kepala yang adem buat mikir kreatif, bukan kepala yang penuh kemarahan kolektif dari timeline.
Yang penting dicatat, ini bukan soal pagi vs sore secara mutlak. Ini soal kamu sadar nggak sama dampak konsumsi berita ke kerjaan kamu. Freelancer itu nggak punya atasan yang ngawasin, nggak punya HR yang ngingetin istirahat. Kita yang harus jaga sendiri ritme kepala kita.
Kalau kamu ngerasa akhir-akhir ini gampang capek, susah fokus, atau mood naik turun tanpa sebab jelas, coba deh cek jam baca berita kamu. Mungkin masalahnya bukan di kerjaan, tapi di waktu kamu nyerap drama orang lain.
Gue sendiri sekarang pakai aturan sederhana: pagi buat kerja dan olahraga ringan, sore buat berita. Kalau ada berita penting banget, klien atau temen pasti bakal kabarin. Nggak perlu jadi orang pertama yang tahu segala hal. Kadang jadi orang yang telat tahu justru bikin hidup lebih tenang.
Dan itu, buat gue, jauh lebih berharga daripada ngerasa "update" tapi tiap hari kerja sambil nahan emosi.