Malam itu gue duduk di kos, lantai dua, kamar 3x3 meter yang AC-nya bunyi kayak mesin jahit. HP di tangan, jempol geser terus. Satu judul lewat: "Harga BBM Naik Bulan Depan?" Gue langsung panik. Langsung hitung-hitung uang makan sisa dua minggu. Padahal isi beritanya belum gue buka.
Itu bukan pertama kali. Dan kalau kamu mahasiswa perantau yang hidup jauh dari rumah, kamu mungkin pernah ngerasain hal yang sama. Kita ini kelompok yang paling gampang cemas soal berita, tapi paling malas baca isinya.
Kos Jadi Saksi: Gue Dulu Cuma Baca Judul, Nggak Baca Isi
Gue akui, selama semester awal kuliah, cara gue konsumsi berita itu parah. Scroll Twitter, lihat headline, langsung bentuk opini. Kadang malah langsung share ke grup keluarga. Ibu gue di kampung baca, telepon, nanya "itu beneran?" — dan gue baru sadar gue nggak tahu jawabannya karena gue nggak baca artikelnya.
Baca juga: DPRD Kapuas tegaskan pembahasan LKPj dan 10 Raperda sesuai mekanisme
Ada satu kejadian yang bikin gue agak malu. Waktu itu ada berita soal kenaikan biaya UKT di beberapa kampus. Gue baca judulnya sekilas, langsung nulis status panjang di story: "Pendidikan makin nggak terjangkau." Temen gue, yang memang rajin baca, komen: "Bro, itu cuma di kampus swasta tertentu, dan ada skema beasiswa juga." Gue hapus story dalam lima menit.
Rasa malu karena salah paham berita itu ternyata lebih mahal daripada biaya langganan berita sebulan.
Dari situ gue mulai mikir. Masalahnya bukan gue nggak peduli. Masalahnya gue peduli, tapi caranya malas. Gue mau cepat tahu, tapi nggak mau luangkan dua menit buat baca sampai habis.
Apa yang Bikin Mahasiswa Perantau Gampang Ketipu Judul?
Gue punya teori sendiri, dan mungkin kamu bisa relate. Pertama, kita jauh dari rumah. Berita soal ekonomi, keamanan, atau kebijakan daerah kadang bikin kita overthinking soal keluarga di kampung. Judul yang provokatif langsung nyambar rasa cemas itu.
Kedua, waktu kita terasa sempit tapi gangguannya banyak. Antara kelas, organisasi, kerja part-time, dan scroll medsos, baca artikel utuh rasanya kayak kemewahan. Padahal kalau dihitung, kita bisa habis 40 menit scroll TikTok tanpa sadar.
Ketiga, dan ini yang paling jujur: kita sering merasa sudah paham karena satu judul. Otak kita pengen cepat puas. Judul kasih kesimpulan instan, dan kita terima aja.
- Jauh dari rumah bikin berita soal kampung halaman terasa lebih urgent dari seharusnya.
- Waktu terasa sempit padahal habis buat hal yang nggak penting.
- Otak cari kepuasan instan, dan judul kasih itu tanpa perlu usaha.
Gimana Gue Mulai Berubah (Tanpa Jadi Anak Serba Tahu)
Gue nggak langsung jadi orang yang baca lima artikel sehari. Nggak. Perubahan gue kecil-kecilan dan agak norak di awal. Gue mulai pakai aturan sederhana: satu judul, satu artikel, satu opini. Artinya, sebelum gue komentar atau share sesuatu, gue wajib buka minimal satu artikel utuh soal itu.
Awalnya berat. Banyak artikel berita Indonesia yang panjang dan penuh iklan. Tapi lama-lama gue nemu beberapa sumber yang nulisnya enak dan nggak bertele-tele. Gue juga mulai sadar, nggak semua berita perlu gue baca. Ada yang cukup gue tahu garis besarnya, ada yang perlu gue telusuri.
Kebiasaan Kecil yang Nempel Sampai Sekarang
Ada tiga hal yang masih gue lakuin sampai hari ini. Pertama, gue selalu cek tanggal berita. Ini terdengar sepele, tapi banyak banget berita lama yang di-share ulang dan bikin panik tanpa alasan. Kedua, gue baca sampai paragraf ketiga sebelum membentuk opini. Biasanya di situ konteksnya mulai kelihatan.
Ketiga, gue nggak lagi share berita ke grup keluarga tanpa baca isinya. Ini yang paling berat, karena grup keluarga itu medan tempur. Tapi setidaknya sekarang kalau Ibu telepon, gue bisa jawab dengan tenang.
Pelajaran yang Gue Bawa Sampai Sekarang
Kalau ada satu hal yang gue pelajari dari semua ini, itu soal kecepatan versus ketepatan. Kita hidup di zaman yang nagih kita buat selalu tahu duluan. Tapi sebagai mahasiswa perantau, yang kita butuh bukan tahu duluan. Yang kita butuh adalah tahu dengan benar, supaya keputusan kita — soal uang, soal pulang kampung, soal kuliah — nggak dibangun di atas judul yang menyesatkan.
Gue juga belajar bahwa jadi kritis itu nggak harus sinis. Kamu bisa santai, bisa bercanda, tapi tetap teliti. Nggak perlu jadi orang yang komen "sumbernya mana?" di setiap postingan. Cukup jadi orang yang baca dulu sebelum bicara.
Dan satu lagi: berita itu kayak makanan. Kalau kamu konsumsi sembarangan, bukan cuma pikiran yang kacau, dompet juga bisa kena. Gue pernah beli barang karena panik baca judul soal kelangkaan. Barangnya sekarang nganggur di lemari kos.
Jadi buat kamu yang lagi duduk di kos, HP di tangan, dan baru lihat judul yang bikin jantung deg-degan — tarik napas dulu. Buka artikelnya. Baca tiga paragraf. Baru deh kamu putuskan mau panik atau nggak. Percaya gue, hidup di perantauan udah cukup bikin deg-degan tanpa tambahan panik dari judul berita yang belum tentu benar.