Lonjakan Kursi Golkar: Fenomena yang Perlu Dianalisis
Partai Golkar mencatatkan pencapaian menarik pada Pemilu 2024 lalu. Perolehan kursi mereka di Dewan Perwakilan Rakyat mengalami peningkatan signifikan menjadi 102 kursi, dibandingkan pemilu-pemilu sebelumnya yang terus mengalami penurunan. Pencapaian ini cukup mengejutkan mengingat survei pra-pemilu hanya menunjukkan angka dukungan antara 6 hingga 9 persen, padahal hasil akhirnya mencapai 11 hingga 13 persen.
Ahmad Doli Kurnia Tandjung, yang menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Pemenangan Pemilu Golkar di era kepemimpinan Airlangga Hartarto, membuka wawasan tentang strategi yang mereka terapkan. Diskrepansi antara survei dan hasil pemilu itulah yang menjadi titik awal untuk menganalisis apa sesungguhnya yang membuat Golkar bisa meraih hasil lebih baik dari yang diprediksi.
Stigma Lama Golkar dan Tantangan Reputasi
Menurut Doli, Golkar menghadapi tantangan tersendiri dalam hal persepsi publik. Sebagian masyarakat masih melihat Golkar melalui lensa sejarah, khususnya stigma sebagai partai penguasa di era Orde Baru. Persepsi ini membuat evaluasi publik terhadap Golkar sering hanya melihat aspek negatifnya saja.
Saat ini, posisi Golkar yang dekat dengan pemerintahan memperburuk citra ini. Ketika seseorang mengritik pemerintah, energi negatif itu sering kali tumpah ke Golkar juga. Sebaliknya, ketika ada pencapaian positif dari pemerintah, publik jarang menghubungkannya dengan peran Golkar. Mekanisme persepsi publik semacam ini tentu membuat Golkar harus bekerja lebih keras untuk membangun opini positif.
Apa yang Membuat Golkar Tetap Menang?
Meskipun menghadapi hambatan reputasi, Golkar memiliki dua aset utama yang menjadi fondasi kemenangan mereka. Pertama adalah kekuatan kader-kader partai yang tersebar di berbagai daerah. Kedua adalah mesin partai yang telah terbangun selama puluhan tahun. Namun, kedua aset ini sebenarnya menyimpan masalah yang perlu diselesaikan.
Reformasi Sistem Penempatan Kader: Kunci Pemulihan Golkar
Doli mengungkapkan bahwa penurunan perolehan suara Golkar di dua pemilu sebelumnya bukan tanpa sebab. Mereka menemukan akar masalahnya terletak pada bagaimana kader-kader dipilih dan ditempatkan sebagai calon legislatif.
Sistem penempatan lama Golkar dipenuhi dengan subjektivitas tinggi. Beberapa praktik yang mereka identifikasi sangat merusak, antara lain diskresi ketua umum yang memungkinkan seseorang tiba-tiba menjadi nomor urut satu tanpa melalui proses yang seharusnya. Selain itu, ada kecenderungan untuk mempromosikan anggota keluarga dan tokoh penting dalam partai tanpa melihat kemampuan mereka. Yang paling merugikan adalah praktik transaksi uang untuk menjadi calon legislatif, sebuah sistem yang jelas mencegah orang-orang berbakat tanpa modal finansial besar untuk berkontribusi.
Mengetahui kelemahan ini, Doli meminta izin kepada Ketua Umum Airlangga untuk melakukan transformasi total. Airlangga memberikan kepercayaan penuh dan kewenangan untuk mereformasi seluruh proses talent scouting dan penempatan kader Golkar.
Mekanisme Seleksi yang Lebih Adil dan Terukur
Proses perbaikan dimulai sejak awal kepemimpinan Airlangga, bahkan sejak persiapan pemilu 2024 dimulai pada tahun 2019. Mereka membuka pendaftaran bagi siapa saja yang berminat menjadi calon legislatif Golkar, tanpa memandang latar belakang atau hubungan keluarga dengan elite partai.
Sistem seleksi yang diterapkan sangat komprehensif. Setiap calon yang terdaftar harus terlibat aktif dalam berbagai tahapan proses. Mereka diajak berpartisipasi dalam program konsolidasi organisasi, kaderisasi, dan tugas-tugas lapangan. Calon diminta memilih daerah pemilihan mereka dan bekerja sama dengan struktur partai setempat. Melalui keterlibatan ini, para calon bisa saling mengenal dan memahami kualitas satu sama lain secara organik.
Konsep yang mereka terapkan berjenjang: dimulai dengan 200 persen calon potensial, kemudian menyusut menjadi 150 persen, dan akhirnya 100 persen menjelang penetapan calon seratus persen (DCS). Proses penyaringan ini berlaku sama untuk semua orang, baik itu aktivis grassroots maupun orang dengan sumber daya finansial besar.
Aktivis dan Orang Kaya: Kompetisi yang Sehat
Salah satu keunggulan sistem baru ini adalah menciptakan kompetisi yang sesungguhnya sehat. Para aktivis yang mungkin tidak memiliki banyak uang tetap punya kesempatan setara berkat keunggulan mereka dalam hal jaringan dan intensitas komunikasi. Orang-orang dengan dana besar, sebaliknya, tidak bisa hanya mengandalkan uang untuk memenangkan penempatan internal.
Ketika kompetisi berlangsung transparan, masing-masing calon tahu posisi mereka dan siapa kompetitor mereka. Aktivis akan meningkatkan kerja lapangan mereka. Orang dengan sumber daya akan mencari cara lain untuk berkontribusi. Semua ini menghasilkan calon yang lebih terukur dan benar-benar siap berkontribusi untuk Golkar.
Sebelum penetapan nomor urut akhir, Doli dan timnya melakukan profiling mendalam terhadap setiap calon, memberikan rekomendasi kepada ketua umum berdasarkan data konkret dan analisis objektif. Sistem ini memastikan Ketua Umum tetap memiliki hak keputusan, namun keputusan tersebut sudah didukung oleh data solid dan pertimbangan yang matang.
Hasilnya adalah daftar calon legislatif yang lebih kuat, lebih termotivasi, dan lebih siap memenangkan suara di lapangan. Itulah mengapa Golkar bisa melampaui ekspektasi survei dan mencapai 102 kursi di DPR pada Pemilu 2024.